PENGARUH
KEBUDAYAAN JEPANG TERHADAP PERKEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK
ARDIYANTO
NUGROHO
50417914
ANALISIS PENGARUH KEBUDAYAAN JEPANG
TERHADAP PERKEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA
Ardiyanto Nugroho
Mahasiswa
Fakultas Teknik Informatika,Universitas Gunadarma
Email:
ardipradana98@gmail.com
Abstrac
This
article aims to determine the influence of Japanese culture on the development
that occurred in the community. The cultural influences discussed in the
article cover a wide range of perspectives such as lifestyle, behavioral
patterns, and other supporting variables as well as changes regarding the
impacts of the effects of Japanese culture in the community, methods taken from
author data in this article. In this article the authors use various methods in
data collection, observation methods taken are dominated by both participant
and non-participant method with direct interviews of the research respondents.
As well as using the method of time series data so that the data obtained into
a single data that is reflective on the theme taken by the author of primary
and secondary data are listed in the article of the data collection results in
the article. From the results of data collection produced the authors found
that the Japanese cultural interest in Indonesia is very large that affect
various aspects of the development of society in Indonesia.
Abstrak
Artikel
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebudayaan jepang terhadap perkembangan
yang terjadi di masyarakat. Pengaruh budaya yang dibahas dalam artikel mencakup
sudut pandang yang cukup luas seperti gaya hidup, pola prilaku, dan variable
pendukung lainnya serta adanya perubahan mengenai mengenai dampak yang
diperoleh atas pengaruh kebudayaan jepang di masyarakat, metode yang diambil
dari data penulis dalam artikel ini. Di dalam artikel ini penulis menggunakan
berbagai metode dalam pengumpulan data, metode observasi yang di ambil
didominasi oleh metode baik bersifat partisipan maupun non partisipan dengan
wawancara langsung terhadap responden penelitian. Serta menggunakan metode data
time series sehingga data yang diperoleh menjadi satu kesatuan data yang
bersifat reflektif atas tema yang yang diambil penulis data primer dan sekunder
yang di cantumkan dalam artikel dari hasil pengumpulan data yang di cantumkan
dalam artikel. Dari hasil pengumpulan data yang dihasilkan penulis didapatkan
bahwa animo budaya jepang di Indonesia sangat besar sehingga mempengaruhi
berbagai aspek perkembangan masyarakat
yang ada di Indonesia.
A.
Pendahuluan
Indonesia adalah bangsa yang majemuk,
terkenal dengan keanekaragaman dan keunikannya. Kebudayaan yang dimiliki oleh
bangsa Indonesia merupakan kebudayaan yang majemuk dan sangat kaya ragamnya.
Indonesia sendiri terdiri dari berbagai suku bangsa, yang mendiami belasan ribu
pulau. Masing-masing suku bangsa memiliki keanekaragaman budaya tersendiri. Di
setiap budaya tersebut terdapat nilainilai sosial dan seni yang tinggi. Pada
kondisi saat ini kebudayaan mulai ditinggalkan, bahkan sebagian masyarakat
Indonesia malu akan kebudayaannya sebagai jati diri sebuah bangsa. Perbedaan
yang terjadi dalam kebudayaan Indonesia dikarenakan proses pertumbuhan yang
berbeda dan pengaruh dari budaya lain yang ikut bercampur di dalamnya. Dilihat
dari perkembangan zaman di era globalisasi sekarang amatlah pesat karena
penemuan-penemuan baru di segala bidang. Penemuan-penemuan baru di dunia
teknologi misalnya yang di dominasikan oleh negara-negara barat, membuat kita
takjub sehingga kita hanya dapat menggelengkan kepala serta dapat menikmati dan
memakainya sebagai bangsa Indonesia. Selain penemuan-penemuan baru tersebut
yang telah membudaya ada juga fenomena lain di era globalisasi yang terjadi di
Indonesia khususnya di kalangan remaja, di mana para remaja cenderung meniru
kebudayaan Timur dan Barat.
Salah satu contohnya adalah kebiasaan
orang-orang barat yang biasa kita saksikan baik di media elektronik, cetak
maupun secara langsung seperti cara berpakaian dan mode yang telah menjadi
budaya masyarakat kita khusus kalangan remaja. Pengaruh ini dapat merambat
lebih cepat ke golongan bawah akibat artis-artis di jagad hiburan yang memiliki
tingkat moderenisasi yang lebih tinggi. Dari perilaku dan gayanya itulah di
lihat sebagai contoh dan layak di tiru karena di anggap lebih maju dan modern.
Umumnya kalangan remaja Indonesia berperilaku ikut-ikutan tanpa selektif sesuai
dengan nilai-nilai agama yang di anut dan adat kebiasaan yang mereka miliki.
Para remaja merasa gengsi kalau tidak mengikuti perkembangan zaman meskipun
bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama dan budayanya. Dan kini
nilai-nilai kebudayaan kita semakin terkikis karena di sebabkan oleh pengaruh
budaya Asing yang masuk ke Negara kita. Jika pengaruh-pengaruh di atas
dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi
rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai
nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa
sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah
penerus masa depan bangsa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan ketahanan budaya
bangsa, maka Pembangunan Nasional perlu bertitik-tolak dari upaya-upaya
pengem-bangan kesenian yang mampu melahirkan “nilai-tambah kultural”. Seni-seni
lokal dan nasional perlu tetap dilanggengkan, karena berakar dalam budaya
masyarakat. Melalui sentuhan-sentuhan nilai-nilai dan nafas baru, akan
mengundang apresiasi dan menumbuhkan sikap posesif terhadap pembaharuan dan
pengayaan karya-karya seni. Di sinilah awal dari kesenian menjadi kekayaan
budaya dan “modal sosial-kultural” masyarakat
A. Manfaat
dan Tujuan
Dalam karya tulis ini banyak sekali
manfaat yang dapat diambil seperti mengetahui hal-hal yang belum diketahui
sebelumnya tentang pengaruh kebudayaan Asing terhadap kebudayaan Indonesia di
kalangan remaja. Serta bertujuan, diantaranya untuk:
-
Memberikan informasi kepada para
remaja, tentang dampak masuknya kebudayaan Jepang di Indonesia.
- Menyadarkan para remaja akan bahaya
yang mengancam negri kita dari dalam maupun luar.
-
Mengetahui cara penanggulangan dari
masalah krisis budaya Memberikan gambaran kepada para remaja tentang pengaruh
masuknya kebudayaan Jepang di Indonesia.
A.
Definisi
Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari
bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi
atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari
kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai
mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang
dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama
dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya
seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari
diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang
berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa
budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya
bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan
perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak
kegiatan sosial manusia.
Banyak
negara yang memperkenalkan kebudayaannya masuk ke Indonesia seperti kebudayaan
Barat, China, Korea, dan Jepang. Salah satu kebudayaan yang penulis ingin bahas
lebih dalam lagi yakni kebudayaan Jepang. Kebudayaan Jepang memiliki ciri khas
yang mempengaruhi negara ini maju di Asia dan berkembang sangat pesat dengan
teknologi dan perindustriannya. Tata cara kehidupan yang serba modern disamping
itu tetap tertanam beragamnya budaya tradisional yang kental.
Perjalanan
sejarah Jepang dari waktu ke waktu tetap membekas dan meninggalkan beragam
kebudayaan yang sampai saat ini masih tetap dilakukan seperti bushido,
chanoyu, ikebana, hanami, matsuri, dan sebagainya. Hal ini menjadikan
Jepang dikenal oleh dunia tidak hanya karena teknologinya yang sudah modern
namun kebudayaan tradisionalnya pun banyak membuat sebagian orang tertarik
untuk mengenal Jepang lebih dalam lagi. Kebudayaan yang dianut dalam suatu
masyarakat selalu tumbuh dan berkembang secara dinamis yang semakin lama
semakin terbuka untuk penyesuaian dengan segala perkembangan yang terjadi di
berbagai kehidupan. Perjalanan sejarah Jepang dari waktu ke
waktu tetap membekas dan meninggalkan beragam kebudayaan yang sampai saat ini
masih tetap dilakukan seperti bushido, chanoyu, ikebana, hanami, matsuri, dan
sebagainya. Hal ini menjadikan Jepang dikenal oleh dunia tidak hanya karena
teknologinya yang sudah modern namun kebudayaan tradisionalnya pun banyak
membuat sebagian orang tertarik untuk mengenal Jepang lebih dalam lagi. Kebudayaan
yang dianut dalam suatu masyarakat selalu
tumbuh dan berkembang secara dinamis yang semakin lama semakin terbuka untuk
penyesuaian dengan segala perkembangan yang terjadi di berbagai kehidupan.
Williams
dalam Deni (2006: 9) hal inilah yang menjadikan munculnya budaya pop. Kata
“pop” diambil dari kata “populer” yang dapat diartikan sebagai banyak disukai
orang, karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang, dan budaya yang dibuat
untuk menyenangkan dirinya sendiri. Budaya populer muncul dari interaksi sehari-hari
dari masyarakat tertentu misalnya dunia fashion.
Budaya
populer Jepang meliputi anime, manga, cosplay, game, j-pop, dan
sebagainya. Budaya populer telah menyebar sampai ke beberapa negara, salah satunya
adalah Indonesia. Budaya populer Jepang di Indonesia sudah tidak asing lagi dikalangan
remaja perkotaan. Berawal dari masuknya film kartun yang ditayangkan di
televisi sekitar tahun 1990-an, majalah yang membahas tentang anime,
busana gaya harajuku (harajuku-kei), game, dan sebagainya.
Indonesia
salah satu negara yang mengikuti perkembangan budaya popular Jepang.
Globalisasi budaya populer Jepang kini dibuktikan dengan semakin banyaknya
acara-acara yang bertemakan Jepang seperti karaoke, menggambar manga, dan yang
tidak pernah terlewatkan adalah cosplay. Demam budaya populer Jepang ini
tidak hanya diminatin oleh anak-anak namun diminati juga oleh para kaum remaja
dan dewasa. Melihat besarnya pengaruh budaya populer Jepang yang masuk ke
Indonesia, menjadikan penulis ingin membahas lebih dalam akan perkembangan budaya
populer Jepang dengan skala yang lebih kecil yaitu di dalam cosplay.
Cosplay
adalah
gabungan dari costume dan play yang berarti mengenakan kostum,
properti cosplay, beserta aksesoris pendukungnya untuk dapat menjadi karakter
yang ada dalam anime ataupun video game yang diikuti dengan
gerakangerakan yang dilakukan oleh karakter dalam anime atau game seperti
mimik muka, gerakan khas yang mencerminkan karakter tersebut (Rosenberg dan
Letamendi, 2013: 9).
Dalam
hal ini, penggemar yang berbusana seperti yang diidolakannya memiliki sejarah
yang panjang, di Amerika pada tahun 1960-an dan 1970-an yang mana para penggemar
mulai menggunakan kostum dari seri film seperti star trek atau star wars. Kemudian
berkembang yakni adanya akting atau memperagakan gerakan dari salah satu
karakter lakukan, yang mana para penggemar mengkombinasikan kostum dengan
pertunjukkan.
Wang
(2010: 19) menjelaskan istilah cosplay sendiri pertama kali diperkenalkan
di Jepang pada tahun 1984 oleh Takahashi Nobuyuki ketika ia mengunjungi acara
masquerade di Los Angeles Science-Fiction Convention. Ada juga sumber
yang menyatakan bahwa istilah cosplay sudah digunakan di majalah sekitar
tahun 1984 masih merujuk bahwa Takahashi adalah orang pertama yang membuat
istilah tersebut. Di Jepang, semenjak saat itu cosplay menjadi sangat
menonjol pada saat itu. Sekarang bagi fans dari barat dalam mengenakan kostum
tidak hanya terhadap karakter fiksi pada genre fantasi melainkan mereka juga
mulai mengenakan kostum dari karakter fiksi Jepang.
Banyak
orang khususnya para kaum remaja di Indonesia menerima dengan baik budaya
populer Jepang yang satu ini. Sekarang ini sudah tidak asing lagi bagi kita
dengan acara-acara yang bertemakan Jepang pasti selalu menampilkan kompetisi cosplay.
Cosplay telah menjadi kegiatan yang semakin digemari, terbukti dengan menyebarnya
komunitas-komunitas yang cosplay yang ada di Indonesia. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), komunitas adalah perkumpulan sekelompok orang yang
saling berinteraksi memiliki minat dan ketertarikan yang sama dengan penggemar
lainnya. Di komunitas ini, seseorang dapat dengan bebas mengungkapkan kesukaannya
dan merasa di terima apa adanya di sebuah komunitas tersebut karena masing-masing
memiliki minat yang satu sama lainnya.
PEMBAHASAN
Hasil
Budaya Pop Jepang Hubungannya dengan Minat Belajar Remaja atau Anak Muda
Indonesia
terhadap Bahasa Jepang
Sekilas
tahun 90-an TV drama Jepang masuk ke Indonesia, beberapa diantaranya yang masuk
adalah ‘Tokyo Love Story’ dengan pemain utamanya Oda Yuji. Lalu ada ‘Hitotsu
no Yane no Shita’ dengan ‘Norippi’ sedangkan dalam animasi masuk Doraemon
dan Candy Candy, dari IMMG (sumber: Elex Media Komputindo). Ketika
itu fim Indonesia sendiri sedang mengalami krisis sehingga jumlah sinetron
tidak sebanyak sekarang sedangkan animasi yang ditayangkan kebanyakan dari
Amerika. Sinetron yang banyak ditayangkan saat itu kebanyakan berasal dari
Brazil, Portugal, dan Spanyol. Sehingga, begitu masuk sinetron Asia non China
yang kebanyakan bertema love story, banyak orang yang merasa tertarik.
Mulai saat itulah sinetron Jepang banyak ditayangkan di beberapa TV swasta. Akhirnya,
drama TV Jepang dan anime ini menjadi trendi di kalangan anak dan anak muda.
Mereka ingin menemukan sesuatu yang baru, yang lain dari drama atau film
Amerika yang selama ini kita kenal dan merajai dunia pertelevisian kita. Sesuai
dengan konsep tentang budaya pop di atas tadi, tampak adanya hubungan antara
keingintahuan anak muda dengan trendinya drama TV Jepang dan anime di
Indonesia. Komik Jepang juga merupakan salah satu pemicu anak muda untuk
mengetahui Jepang lebih dekat. Pengunjung pameran Japan Foundation saat
dilangsungkan beberapa pameran kebanyakan anak muda (SMA dan SMP) yang amat tertarik
dengan kehidupan Jepang dan ingin lebih dekat lagi dengan budaya negara
tersebut (sumber: Japan Fondation Jakarta ). Karena komik dan anime itulah,
kegiatan cosplay di Indonesia sering diselenggarakan di mal dan pusat
perbelanjaan.
Apakah
budaya Jepang yang sekarang boom kembali setelah mengalami masa stagnan antara
tahun
1990-1995 itu memicu naiknya jumlah anak muda yang ingin mempelajari bahasa
Jepang?
Untuk
mengetahui apakah mahasiswa sastra Jepang masuk karena mereka menyukai TV drama
dan film animasi, saya membagi angket ke-4 universitas, yaitu Universitas
Pajajaran, Bandung sebanyak 50 responden, Universitas Brawijaya, Malang sebanyak
30 responden, Universitas Widyatama, Bandung sebanyak 30 responden, dan
Universitas Bina Nusantara, Jakarta sebanyak 60 responden.Dalam angket
penelitian ketika saya tanyakan apakah responden (170 orang) tertarik masuk
sastraJepang karena sinetron Jepang dan animasi maka jawaban mereka tampak
seperti Gambar 1 berikut.
Gambar 1 Grafik Apakah Masuk ke Sastra Jepang
karena
Sinetron dan Animasi Jepang
Tampak
presentasi yang menyatakan bahwa responden tertarik masuk sastra Jepang karena
pengaruh anime dan TV drama menunjukkan presente tinggi, walaupun tidak mutlak. Akan tetapi, hal itu tidak mengubah hipotesis bahwa masuknya animasi dan TV drama Jepang ke Indonesia memacu minat anak muda yang menginginkan sesuatu yang baru untuk masuk ke sastra Jepang. Trendi drama TV dan animasi yang merupakan hasil kerja keras pada pemain di dunia perfilman Jepang sedikit banyak telah memberikan dampak terhadap banyaknya anak muda yang ingin mempelajari Jepang dan hal yang berbau ke-Jepangan. Presentase untuk pertanyaan, apakah setelah masuk sastra Jepang mereka mendapatkan apa yang mereka ingin tahu ketika menonton TV drama atau film animasi yang mereka pernah lihat maka jawabannya adalah seperti pada Gambar 2.
Gambar
2 Grafik Apakah Setelah Masuk Sastra Jepang
Anda
Mendapatkan Apa yang Anda Ingin Tahu Ketika Menonton TV Drama atau Film Animasi
Artinya,
pengajaran bukan hanya bahasa tetapi juga meliputi budaya, politik, dan ekonomi
Jepang, telah memberikan pengaruh positif terhadap anak-anak muda untuk
mengenal Jepang lebih dekat. Di drama TV dapat diketahui tingkat ekonomi Jepang
yang lebih mapan dari kehidupan sehari – hari negara Indonesia. Contoh Nobita
yang dapat menyantap sayur “alfalfa”, sayur dari Australia, dengan jumlah amat
banyak. Padahal, di Indonesia sayur tersebut hanya dapat ditemukan di supermarket
khusus untuk orang asing, dengan harga Rp15.000 perkotaknya. Dari drama TV
Jepang juga terlihat jalan yang mulus dan terjaga dengan baik walaupun ada di sekitar
pedesaan. Atau, pakaian yang digunakan, atau fashion yang sedang trendi serta
hasil budaya lain yang membuat kita ingin mencobanya, seperti mesin penjual minuman
atau makanan otomatis. Namun, sistem pemelajaran bahasa Jepang yang memperkenalkan
tren terkini serta masalah masyarakat yang fenomenal jarang disentuh dalam mata
kuliah. Saat ini baru ada di Universitas Bina Nusantara dan sekolah tinggi
bahasa asing serta universitas nasional saja yang melalui interaksi aktif
mahasiswa dalam mengumpulkan bahan dan mempresentsikannya di kelas sedikit demi
sedikit kehidupan fenomenal Jepang sudah dapat tersentuh. Lainnya masih mengajarkan
masalah ‘ie’, ‘bushido’, dan hal klasik lainnya. Tentu saja mengetahui sistem
kekerabatan Jepang dan semangat Bushido yang tidak pernah luntur itu merupakan
suatu pengetahuan yang menarik. Akan tetapi, alangkah baiknya jika konsep itu
diterapkan secara lebih aplikatif dalam kehidupan orang Jepang sekarang ini.
Menurut
analisis, inilah jawaban mengapa jawaban “ya” di atas hanya 50% saja. Akan
tetapi, tentu saja itu memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.
Ketika responden ditanya
apakah
dengan adanya drama dan animasi Jepang dalam bahasa asli yang banyak dijual di
Indonesia ini membuat mereka terbantu dalam proses belajar, grafik menunjukkan
hal berikut.
Gambar
3 Grafik Apakah dengan Adanya Drama dan Animasi Jepang dalam Bahasa Asli yang
Banyak Dijual di Indonesia Membuat Anda Terbantu dalam Proses Belajar
Ternyata
para mahasiswa sangat terbantu dengan adanya Drama TV Jepang dan film animasi
dalam
bahasa aslinya. Seperti diketahui dalam proses pemerolehan ilmu, untuk dapat
menguasai
bahasa
kedua perlu adanya dua proses, yaitu proses pembelajaran bahasa pengajaran pola
kalimat (pattern) sebagai proses input dan sistem latih di kelas
(drill) sebagai proses out put yang merupakan feed back dari
yang telah diajarkan, adalah hal yang umum dilakukan. Hal itu sesuai dengan
yang dikatakan RL. Oxford (1990:37-55) melalui Ninchi Strategi bahwa
setiap pengajaran bahasa asing memerlukan enam kegiatan wajib, yaitu Practising
(練習をする),
Receiving(情報内容を受け取る), Sending(情報内容を送る), Analyzing(分析する), Reasoning(推論する) ,
dan
Creating(インプットとアウトプットのための構造を作).
Akan
tetapi, setelah berkembangnya multimedia, terutama komputer akhir-akhir ini,
proses pembelajaran one way system mulai mengalami perubahan. Menurut
Kobayashi (2003), pemelajar bahasa asing sering memerlukan shigeki atau
sesuatu yang membangkitkan minat mereka seperti sebuah terapi kejut. Dengan
adanya shigeki, rasa ingin tahu akan bangkit dan semangat belajar akan tumbuh.
Rupanya, animasi dan drama TV bahasa asing inilah yang sarana shigeki,
bagi para pemelajar bahasa asing terutama Jepang.
PENUTUP
Simpulan
penelitian adalah bahwa bukanlah sesuatu yang mutlak bahwa penyuka anime atau
drama
Jepang pasti akan masuk ke sastra Jepang. Hal itu terlihat dari jumlah yang
hanya menunjukkan angka 58% saja peminat anime dan drama Jepang yang masuk ke
sastra Jepang di keempat universitas tersebut. Akan tetapi, tentunya tidak
menutup kemungkinan para pemelajar bahasa Jepang yang kini sedang mempelajari
bahasa tersebut adalah para penggemar komik, animasi, dan drama TV Jepang. Hal
itu terjadi karena dengan adanya produk kontemporer Jepang di tanah air, para
pemelajar bahasa Jepang merasa terbantu, seperti tampak pada gambar dalam pembahasan.
Dengan adanya drama dan anime Jepang yang kini penjualannya begitu mem-booming,
para pemelajar dapat berlatih mendengarkan bahasa Jepang sehari-hari dari para
tokoh yang ada di dalam media tersebut. Dengan banyaknya berlatih mendengar
proses out put, yang diperlukan oleh pemelajar bahasa asing dapat terlaksana,
sesuai yang dikatakan R.L Oxford.
Untuk
buku bacaan sejenis komik yang ditulis dalam bahasa asli Jepang, para pemelajar
dituntut
untuk mengetahui jumlah kanji yang lebih banyak daripada yang diajarkan di
kelas. Hal itu tentu akan mendukung kemampuan mereka dalam menulis dan membaca
huruf yang memang sangat penting kedudukannya dalam menguasai bahasa Jepang.
Membaca langsung sebuah karya tulis merupakan proses output, dari
kuliah tulisan kanji dan pemahaman bahasa Jepang pada umumnya.
Akan
tetapi, terlihat dari gambar, mereka yang sudah masuk ke jurusan sastra Jepang
yang
mendapatkan
apa yang mereka inginkan hanya 50%. Diprediksi hal itu terjadi karena kurangnya
informasi
yang mereka dapatkan dari dalam kampus itu sendiri dan kurangnya para pembelajar
untuk mencari tahu sendiri tentang Jepang masa kini. Dunia informasi yang
begitu berkembang memaksa para pemelajar untuk mencari sendiri informasi
tentang berbagai hal mengenai Jepang. Dan, karena media untuk melakukan searching
masih terbatas, membuat mereka yang awalnya berharap banyak mendapatkan
informasi tentang Jepang yang aktual merasa kecewa. Demikianlah ternyata untuk proses
shigeki dalam proses pembelajaran bahasa, hadirnya anime dan film Jepang
sangat membantu dalam belajar bahasa asing.
Sumber:
https://media.neliti.com/media/publications/166529-ID-dampak-drama-anime-dan-musik-jepang-terh.pdf
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab1/2013-1-00459-JP%20Bab1002.pdf
http://www.siswamaster.com/2016/04/dampak-pendudukan-jepang-di-indonesia.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar